Selasa, 05 Desember 2017


Apa itu Lontaraq/Lontarak ? Oleh Syamsu Hilal

Oleh: dr. Syamsul Hilal Ramsah

Dari hasil diskusi dan sharing dengan beberapa pallontarak serta mengamati perkembangan diskusi di beberapa grup-grup sejarah dan budaya,saya berkesimpulan bahwa ternyata banyak diantara kita yang masih salah faham terhadap makhluk yang bernama “lontarak’. Lontarak yang saya maksud disini adalah kronik peninggalan sejarah orang sulawesi selatan. Bukan pohon lontar, meskipun penamaannya berasal dari pohon ini, karena daun dari pohon ini digunakan sebagai media untuk menulis para pendahulu kita, sebelum mengenal yang namanya kertas. Ketika kita menyebut lontarak, ternyata banyak yang memahaminya hanya seputar “LA GALIGO”, padahal jenis lontarak itu beragam macamnya.

Tinggal sedikit jumlahnya “lontarak” yang menggunakan media daun lontar sebagai bahan media penulisannya. Sangat sulit menemukannya lagi, karena kronik tersebut sudah ditulis ulang di atas media kertas. Cristian pelras menyebut dalam bukunya (manusia Bugis), bahwa orang sulsel dalam hal ini bugis makassar, tidak mementingkan soal kemurnian bentuk atau media, tapi lebih mementingkan substansi dan Isi. Media dan bentuk boleh berubah, tapi isi tidak boleh berubah. Setiap era, “lontarak” ini disadur ulang, dipindahkan di media yang baru, mungkin karena pada saat itu belum ada alat foto copy-an. Biasanya isi lontarak yang sudah disadur ulang tersebut ditambah di halaman berikutnya sejarah atau peristiwa yang terjadi pada masa penyaduran, sehingga penulisan sejarah tersebut berkesinambungan. Kemudian media penulisan sebelumnya biasanya dimusnahkan. Terutama untuk lontarak attoriolong dan lontarak akkarungeng. Pada masa Andi Djemma menjadi DATU Luwu, pernah dilakukan penyaduran ulang terhadap lontarak attoriolong dan Lontarak Akkarungeng Luwu, dan ditulis di atas media kertas. Setelah selesai disadur ulang, ditambahilah dengan sejarah baru yang terjadi pada masa penyaduran yaitu sejarah tentang Andi Djemma sebagai Datu Luwu, bahkan juga tertulis tentang peristiwa DI/TII.

Penulis lontarak digolongkan atas dua yaitu Pallontarak dan Paroki’. Persamaannya adalah keduanya memiliki tugas menulis dan merekam peristiwa yang terjadi di masanya. “Pallontarak” sudah pasti paroki’, tapi “Paroki’” belum tentu Pallontarak. Pallontarak memiliki kemampuan membaca dan memahami segala jenis lontarak, termasuk yang masih berbahasa kuno. Mampu memahami penanda yang ditulis dalam lontarak, juga mampu memahami pranata yang diungkap dalam lontarak, terutama pranata yang berkaitan dengan Istana baik itu pranata soal ritual maupun yang berkaitan dengan sistem dalam istana. Contoh penanda dan pranata yang diungkap dalam lontarak panguriseng yang hanya bisa difahami oleh Pallontarak yaitu soal penanda laki-laki dan dan perempuan dalam bagan silsilah. Bila posisi sepasang tokoh yang tercantum di dalam bagan silsilah itu antara suami dan istri di pasang dengan cara berjejer sejajar, maka dipastikan sepasang suami istri itu memiliki timbangan darah yang setara/sederajad/pada. Bila dipasang berjejer bertingkat, maka bisa difahami bahwa yang berada ditingkat bawah itu timbangan darahnya lebih rendah dari pasangannya. Runutan silsilah inilah yang biasa dipakai oleh Dewan Adat (di Luwu: Dewan adat duabelas) untuk melakukan “Timbang Darah” sebagai salah satu prasyarat dalam menentukan siapa yang berhak menduduki Tahta Luwu selanjutnya (DATU/RAJA LUWU). Selain yang disebut di atas, nanti seseorang itu disebut “Pallontarak” bila memiliki karya tersendiri, yaitu tulisan baru. Biasa juga para Pallontarak ini mampu membuat “Surek Selleng” yaitu membuat surek yang terinspirasi oleh naskah galigo untuk kepentingan elong kelong (seni melagu). Surek selleang dibuat karena para pallontarak ini menghindari menyebut nama asli para tokoh-tokoh dalam La Galigo, karena kitab ini begitu disakralkan, sehingga tidak boleh disajikan secara gelondongan. Yang lebih penting lagi seorang Pallontarak melakukan sumpah, dimana isi sumpahnya berefek pada keturunannya bila menulis sesuatu yang tidak benar. Sementara Paroki’ tugas utamanya hanyalah terbatas pada penulisan saja, tidak mesti memiliki kemampuan memahami semua lontarak. Pada zaman Andi Djemma salah satu Pallontarak Luwu itu bernama Andi Pangerang Opu Tosinilele, sementara Paroki’ pada zaman itu bernama Sanusi Daeng Mattata.

Dari penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kevalidan penulisan lontarak itu bisa dipertanggung jawabkan. Apalagi penulisan lontarak disuatu negeri, bisa diverifikasi di negeri lain yang memiliki keterkaitan tokoh dan peristiwa. Contoh: jika ingin tahu lebih jernih tentang peristiwa Rumpa’na Sidenreng, dan Perang Cenrana di masa DATU LUWU La Dewa Raja Datu Kelali, maka bukalah lontarak di masing-masing negeri yang terlibat dalam perang tersebut, kemudian bandingkan satu sama lain dengan mempertimbangkan pula posisi kerajaannya pada saat itu. Ada beberapa kerajaan yang terlibat pada masa itu, yaitu Luwu, Sidenreng, rappang, otting, Wajo, belawa,dan beberapa kerajaan lain yang terlibat dalam persekutuan dalam perang Sidenreng. Karena itu kisah ini bisa dibaca di Lontarak Akkarungeng Luwu (LAL), Lontarak Sukkuna Wajo (LSW), Lontarak Sidenreng (LS). Untuk perang Cenrana yang terlibat adalah Luwu, Bone, dan Wajo. Oleh Karena itu kisahnya bisa dilihat di LAL, LSW dan LAB (lontarak akkarungeng Bone). Masing masing lontarak ini menceritakan peristiwa yang sama dengan detail peristiwa pada masa itu. Yang membedakan adalah sudut pandang dalam mengisahkan peristiwa, tapi hal itu bukanlah menjadi hal yang fatal untuk kita mengatakan Lontarak A atau B tidak valid. Ibarat hari ini kita membaca koran Harian Kompas dengan Republika soal Demo 212 di Jakarta. Kedua harian ini menceritakan peristiwa yang sama dan tentu saja Valid berdasar kerja jurnalistik. Tapi yang membedakan adalah cara mereka memandang peristiwa. Begitu pulalah lontarak. Jadi saya kurang sependapat bila ada yang mengatakan bahwa lontarak itu ditulis sesuai selera. Yang lebih tepatnya adalah lontarak itu ditulis berdasar sudut pandang penulisnya terhadap rekaman peristiwa yg ditulisnya pada masa itu. Namun demikian semua bisa diverifikasi dikemudian hari oleh generasi setelahnya, karena meninggalkan peninggalan berupa goresan tulisan sejarah.

Lontarak adalah rekaman sejarah masa lalu yang syarat dengan pesan yang bisa dipakai sebagai pijakan untuk hari ini dan masa mendatang. Adapun jenis-jenis lontarak sebagai berikut: 

1. Lontarak “La Galigo”

Biasa juga disebut “Surek Galigo”. Disebut surek karena disajikan dalam bahasa sastra. La galigo berisi tentang rekaman konsep nilai, spiritual, kosmologi, sejarah, sistem kekuasaan, pengembaraan,dsb., yang disajikan dalam bentuk sastra yang tinggi yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di Era La Galigo.

2.Lontarak Attoriolong

Lontarak ini berisi kisah tentang berdirinya sebuah kerajaan serta kisah tokoh yang terlibat dalam sebuah peristiwa yang berkaitan dengan Istana dan kerajaan, yang disajikan secara tertulis dengan menggunakan narasi biasa layaknya penuturan sejarah. Penulisan attoriolong ini biasa ditandai sebagai penulisan peristiwa yang terjadi dalam periode sejarah. Kalau dalam Lontarak Attoriolong Luwu (LAL), periode Lontarak ini dimulai pada masa Simpurusiang.

3. Lontarak Akkarungeng

Lontarak ini berisi tentang kisah para Raja dan Bangsawan Istana dari masa ke masa, termasuk keturunannya yang terkait Istana yang dituliskan dalam bentuk pengurutan. Juga berisi silsilah.

4. Lontarak Pangnguriseng

Yaitu lontarak yang memuat silsilah para Raja dan Bangsawan yang ditulis dalam bentuk narasi. Dalam perkembangannya kemudian sudah ada yang tertulis dalam bentuk bagan silsilah. Melalui lontarak panguriseng ini, kita bisa mengenali nama asli tokoh-tokoh yang disebut dalam lontarak attoriolong maupun lontarak akkarungeng, dimana dalam lontarak attoriolong dan akkarungeng hanya menyebut gelar anumerta. Seperti contoh: Petta matinroE ri Ware, kadang juga disebut saja daeng Parbbung, juga biasa disebut gelar Sultannya saja (kisah pemberian gelar sultan ini dijelaskan dalam Lontarak Akkarungeng). Melalui lontarak panguriseng maka diketahuilah bahwa Petta MatinroE ri Ware’ tersebut bernama La Patiware’. Maka penulisan dikemudian hari menulisnya dengan lengkap yaitu La Patiware’ Daeng Parabbung Sultan Waliyul Muthoharuddin Petta MatinroE ri Ware’na Pattimang.

5. Lontarak Mallullungeng

Lontarak ini berisi silsilah yang bentuk medianya digulung seperti roll.

6. Lontarak i kaciri

Yaitu lontarak yang dibungkus kain kafan dan dijahit dengan rapat, biasanya berisi peristiwa yang menyangkut aib.
Demikian uraian singkat saya soal apakah itu “Lontarak”, semoga penjelasan di atas bisa sedikit memberi gambaran tentang lontarak, sehingga kita bisa keluar dari kesalah fahaman.
Wallahu alam bishshowab

Jumat, 24 November 2017


Kitab I La Galigo Adalah Karya Sastra Orang Bugis

Naskah Lagaligo belakangan ini menjadi perdebatan dan buah bibir dikalangan para netter. Katanya naskah I Lagaligo ini bukanlah karya sastra orang Bugis. Betulkah demikian ?
Saya rasa untuk menarik kesimpulan tentang naskah I Lagaligo ini anda dan kita semua wajib membaca isi naskahnya sampai tuntas. Bahkan bukan sekedar membaca tapi wajib mengkaji kata demi kata kalimat demi kalimat agar isi naskah ini benar-benar dipahami.

Cukup sederhana Alasan saya mengatakan bahwa naskah La Galigo adalah karya sastra oleh orang Bugis. Alasan yang paling mendasar adalah jika kita membaca naskah ini maka hampir 100% nama tokoh yang disebutkan dalam kisah ini adalah nama yang umum digunakan oleh orang Bugis saat ini. tapi ada satu hal yang perlu kita ketahui semua bahwa karya sastra I Lagaligo ini bukan hanya milik orang Bugis. jadi kembali saya tekankan bahwa karya sastra I La Galigo bukan hanya milik orang Bugis tapi milik semua masyarakat Sulawesi Selatan bahkan milik masyarakat Indonesia. Alasan saya mengatakan karya sastra ini milik Sulawesi Selatan bahkan Nusantara karena di dalam kisah ini tidak saja membahas tentang Bugis. tapi beberapa wilayah lainnya di Nusantara ikut serta disebut dalam naskah ini seperti Jawa, Marangkabo (Minangkabau), Taraniti (Ternate), Gima (Bima).

Bagi yang masih ragu saya menganjurkan kepada anda untuk minimal membaca terjemahan Lagaligo oleh R.A Kern. Dimana pada halaman 1 sampai 200 membahas tentang peristiwa yang terjadi di Luwu. tapi halaman 200-1000 lebih umumnya membahas tentang intrik-intrik yang terjadi di wilayah Cina - Tana Ugi.

Berikut saya lampirkan isi naskah yang memperlihatkan dominannya penggunaan nama Bugis dalam toko I La Galigo mustahil jika karya tulis ini tidak dibuat oleh orang Bugis.


Silahkan perhatikan nama-nama tokoh diatas, itu hanya sebagian karena ada ribuan nama tokoh yang disebut dalam naskah La Galigo, untuk lebih jelasnya silahkan baca sendiri.Kenapa saya menggunakan nama Tokoh sebagai pembuktian, karena nama Orang tidak bisa di Translate.


Dan Kutipan Nashkan Diatas adalah salah satu kisah yang menyebutkan seekor burung yang pandai berbicara dalam bahasa Bugis dan Jawa dan bahasa lainnya.

Kita juga perlu mengetahui bersama Bagaimana kronologis sehingga naskah I La Galigo terjemahan dari katalog R.A Kern masih bisa kita baca sampai saat ini. pelestarian naskah ilagaligo ini bermula dari keprihatinan orang-orang Belanda dengan mulainya berkurang orang-orang tua yang menghafal kisah dalam Lagaligo. Oleh karenanya diadakan upaya untuk mengumpulkan naskah naskah kuno yang masih banyak dijumpai dalam masyarakat Sulawesi Selatan. dalam upaya tersebut Matthes berhasil mengumpulkan 26 Naskah, Jonker mengumpulkan 67 Naskah Dan Cense 42 Naskah. Kemudian dilakukan upaya penyaduran kembali naskah I Lagaligo oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa.Yang berjumlah 12 jilid dan total 6.000 halaman. Perlu diketahui juga bahwa hanya orang Bugislah yang mampu menyadur ulang dan mengartikan isi naskah I La Galigo ini.

Dikemudian hari tepatnya pada tahun 1939 R.A kern membuat 2 buah katalog terjemahan dalam Bahasa Belanda, jadi perlu diperhatikan bahwa R.A Kern membuat terjemahan dalam bahasa Belanda itu artinya katalog yang dibuat oleh R.A Kern adalah untuk konsumsi orang-orang Eropa dan Barat. Jika naskahnya dibuat untuk konsumsi orang Barat Maka tidak ada untungnya bagi Kern untuk merekayasa terjemahan naskah ini. Hal ini saya perjelas karena banyak orang-orang yang sok tahu tentang isi naskah ini padahal belum pernah membaca yang beranggapan bahwa naskah ini di rekayasa oleh orang Belanda. Padahal jika kita membacanya sangat terlihat bahwa naskah ini ditulis apa adanya dan tidak menguntungkan atau merugikan pihak manapun. Dan Barulah pada tahun 1989 terjemahan naskah I Lagaligo dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gadjah Mada University press. Jadi ada selang sekitar 50 tahun dari tahun 1939 sampai 1989 naskah ini hanya menjadi konsumsi orang barat.

Sejak terbitnya naskah I La Galigo dalam Bahasa Indonesia oleh Gadjah Mada University press tahun 1989 maka orang-orang Indonesia tidak kesulitan lagi untuk membaca kisah La Galigo ini.

Jadi saya rasa pihak-pihak lain yang meributkan tentang Naskah La Galigo bahkan mengatakan BUKAN KARYA SASTRA ORANG BUGIS, perlu mengkaji ulang pendapatnya.