Kamis, 09 November 2017


Asal Usul Suku Bugis Sulawesi Selatan Oleh Tenri Ewa


Oleh : Tenri Ewa

Bismillahirahmanirrahiem


Pertama-tama saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala jika sekiranya dalam tulisan saya ini terdapat kekeliruan yang akan  menimbulkan mudharat bagi pembaca.  Dan yang kedua saya mohon maaf kepada seluruh pembaca jika sekiranya terdapat kekeliruan dalam tulisan saya ini.

Saya bukanlah seorang sejrawan, melainkan hanya penikmat sejarah yang suka menyimak pada saat terjadi diskusi bertema sejarah dan budaya pada beberapa grup media sosial terutama Facebook khususnya sejarah yang berkaitan dengan Suku Bugis Atau Sulawesi.


Hal berikut yang saya rasa penting untuk saya sampaikan bahwa apa yang saya tulis ini bukanlah kebenaran mutlak tapi hanya merupakan kesimpulan dari proses olah pikir dari beberapa sumber yang pernah saya baca baik yang tertulis ataupun sumber yang dituturkan.  Apakah kemudian tulisan saya ini berisi kebenaran sepenuhnya dikembalikan kepada pembaca dan mungkin diharapkan adanya penelitian lebih lanjut tentang apa yang saya sampaikan pada tulisan ini.


Yang akan saya sampaikan bukanlah suatu hal baru Namun saya hanya merangkai beberapa sumber sejarah yang telah leluhur kita abadikan melalui naskah tulis.  


Kembali ke judul tentang asal-usul Suku Bugis di Sulawesi Selatan.  tentu saat pembaca mencari di Google dengan keyword asal-usul Suku Bugis maka akan anda temui banyak sekali tulisan yang membahas tentang tema ini tapi Insya Allah apa yang akan saya Tuliskan mungkin sedikit berbeda dengan tulisan yang lain.


Pada saat saya memulai untuk  mengkaji tentang sejarah atau asal-usul Suku Bugis naskah paling pertama yang saya baca adalah naskah La Galigo.  Meskipun banyak yang beranggapan bahwa naskah I La Galigo hanya sebuah sastra yang tidak bisa dijadikan sumber sejarah. Namun setiap manusia tentu bisa berpendapat karena pendapat yang mengatakan bahwa karya sastra I La Galigo hanya sebuah sastra pun merupakan pendapat dari manusia.  


Jadi saya sebagai salah satu Manusia ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala tentu berhak untuk berpendapat tentang apa yang tertulis dalam naskah I Lagaligo kisahcerita yang didalamnya terkandung kisah sejarah hanya saja yang menjadi masalah adalah penempatan periode masa I La Galigo terjadi, karena jika penempatan periode masa peristiwa dalam cerita La Galigo tidak tepat maka cerita yang ada didalamnya akan menjadi mitos tapi jika ditempatkan pada priodenya maka cerita tersebut bukanlah mitos tentu saja dengan membandingkan kisah-kisah yang pernah terjadi dalam Al-quran misalnya, bagaimana Nabi Muhammad pernah menaiki langit yang berjumlah tujuh lapis, bagaimana Nabi Isa dan Ilyas mampu menghidupkan orang mati dengan seizin Allah tentunya dan bagaimana Nabi Daud pernah bertarung dengan sosok raksasa yang disebut Goliath. kesemua kisah-kisah itu seandainya tidak dikisahkan dalam Alquran maka tentu menjadi hal yang mustahil bagi kita apabila kacamata yang digunakan adalah kacamata kekinian.

Saya pribadi memandang dan berpendapat bahwa kisah atau peristiwa yang dikisahkan dalam naskah I La Galigo adalah kisah yang terjadi sebelum abad Masehi, Bukan abad 7-9 apalagi 11. alasannya ada beberapa hal :

Analisa Pertama, pada abad ke 7-9 umur manusia tidak lagi panjang seperti pada era sebelum rasulullah Muhammad SAW. Pada abad 7-9 ini tidak ada lagi atau sudah sangat jarang manusia yang berumur diatas 200 tahun. Sementara tokoh dalam cerita naskah La Galigo dapat dianalisa umurnya seperti halnya Usia tokoh La Patigana (PatotoE) yang masih hidup hingga generasi ke 7 keturunannya yakni La Patigana – Batara Guru – Batara Lattu – Sawerigading – La Galigo – La Mappangandro – Apumperenneng.
Jika dianalisa, seseorang yang mampu bertahan hidup hingga generasi ke 7 sudah pasti umurnya diatas 200 tahun yaitu bisa mencapai usia 500 tahun. Penulis mengambil dasar perbandingan antara umur Nabi Adam a.s. yang hidup hingga cucu generasi ke 9 sebelum Nabi Nuh a.s. Sementara umur Nabi Adam a.s. dari beberapa dalil disebutkan mencapai 1000 tahun.

Analisa kedua adalah tentang penyebutan masa PARIAMA (Periode), tidak ada keterangan pasti 1 (satu) Pariama itu berapa tahun lamanya. Namun dalam Naskah La Galigo terjemahan  R.A Kern disebutkan bahwa 1 (satu) Pariama adalah hitungan masa seorang wanita hingga mencapai usia layak nikah. Jika kita mengambil patokan kekinian maka usia layak nikah untuk gadis kekinian adalah 15-17 tahun. Dalam penggalan kisah Naskah La Galigo dikisahkan bahwa baginda Sawerigading meninggalkan Luwu di usia muda setelah menikah dengan beberapa sepupunya kemudian mencari jodohnya di Kerajaan Cina (Bone, Wajo, Soppeng saat ini) yang bernama We Cudai. Dikisahkan bahwa Sawerigading meninggalkan kerajaan Luwu selama 10 Pariama, berarti jika dikonversi keperhitungan tahun Sawerigading meninggalkan Luwu sekitaran 170 tahun (bisa lebih). Yang unik adalah saat Sawerigading kembali ke kerajaan Luwu We Cudai yang seharusnya sudah berumur sekitar 200 tahun masih melahirkan keturunan yaitu seorang puteri bernama Mutia Toja. Jika berdasar analisa pribadi tidak mungkin era dari latar kisah ini pada abad ke 7-9 karena wanita yang berumur 200 tahun secara normal tidak akan bisa lagi melahirkan anak karena telah mencapai masa usia yang disebut monopouse.

Analisa ketiga, dari Naskah terjemahan R.A Kern ataupun Naskah Lain yang menceritakan tentang kisah La Galigo. Tidak ada penyebutan masa yang menyebutkan tentang BULAN atau TAHUN. Maksud saya adalah lama periode tidak pernah disebut dalam masa bulan dan tahun misalnya, Sawerigading berlayar selama 2 Bulan atau 3 Bulan, atau Sawerigading meninggalkan Luwu selama 100 tahun.
Dalam kisah La Galigo sekali lagi masa hanya diukur dengan hitungan hari dan Pariama (Periode) sehingga saya menarik kesimpulan bahwa pada masa tersebut baik tokoh ataupun penutur kisah ini BELUM MENGENAL PENANGGALAN MASEHI ATAUPUN HIJRIYAH. Padahal jika benar Sawerigading bisa sampai ke China Tiongkok berarti seharusnya manusia Sulawesi pada era itu sudah berada pada abad setelah masehi dan hijriyah. Jadi saya pribadi berkesimpulan bahwa era La Galigo adalah sebelum masehi.

Analisa keempat adalah beberapa peristiwa yang memang tidak sinkron dengan era abad 7-9 misalnya, disebut tokoh yang memiliki badan besar (Raksasa) seperti Halnya I La Gongkona  yang bertugas menjaga Kapal Sawerigading yang mana jarak antara kedua matanya saja selebar panjang lengan (sesiku) manusia normal Zaman itu, Beliau juga yang disebut La Pitureppa Rawoale . Setahu saya pada era abad 7-9 tidak dikenal lagi sosok raksasa namun pada Era Nabi Daud (Ayah Nabi Sulaiman) masih dikenal sosok Raksasa yaitu Goliath. Tentang kemampuan menghidupkan manusia yang telah meninggal hanya pernah dikisahkan pada era Nabi Ilyas dan Nabi Isa. Yang menghidupkan tentu ALLAH tapi ada manusia yang diberi kemampuan khusus.

Analisa berikutnya yang mungkin sedikit liar dan melenceng adalah ingatan saya tentang kisah Nabi Adam yang dipercayai semua agama samawi sebagai manusia pertama di bumi dikisahkan memiliki 41 anak keturunan (Putera Puteri). Dimana ke 40 Keturunannya ini selain Nabi Sith lahir dengan kondisi kembar Emas (Bugis : Dinru Ulaweng) (Kembar Lelaki Dan Perempuan) Entah hanya sebuah kebetulan dalam kisah La Galigo pun dijumpai banyak sekali Tokoh yang lahir kembar emas termasuk tokoh utamanya yakni Sawerigading dan We Tenriabeng. Berdasarkan ilmu biologi tentang teori genetika maka bisa dipastikan anak Nabi Adam yang semuanya kembar emas pasti ada diantara mereka yang mewarisi gen keturunan kembar ini seperti halnya gen raksasa Nabi Adam yang masih diturunkan sampai saat ini meskipun tingginya perlahan mulai berkurang. Tapi saat ini kita masih biasa menjumpai manusia berukuran tinggi diatas normal begitu juga manusia yang lahir kembar pria dan wanita.


Beberapa analisis-analisis di atas lah yang menyebabkan saya berpikir bahwa era peristiwa I La Galigo  terjadi sebelum Masehi.  Dan peristiwa yang dikisahkan di dalamnya adalah sebuah peristiwa yang berisi kebenaran.

Berikut adalah silsilah khusus tokoh ilagaligo yang saya buat sendiri dari sumber terjemahan naskah Lagaligo oleh R.A Kern.


Dan berikut adalah silsilah lain yang menarik untuk dikaji :
Silsilah Oleh C. Pelras

Sisilah Oleh par Gilbert Hamonic
 
Dari silsilah di atas sangat jelas bahwa Batara Guru adalah manusia yang memiliki garis keturunan ke atas ataupun ke bawah jadi bukanlah manusia pertama. Lalu Siapa orang tua dan garis keturunan sosok Batara Guru,  pada silsilah di atas sebenarnya sudah terlihat.  dan diperkuat oleh Silsilah yang terdapat pada buku  Tuhfat al-nafis.


Naskah tuhfat al-nafis adalah naskah yang ditulis oleh raja Ali Haji dari Riau seorang raja berdarah Bugis yang ditulis sekitar abad 18-19.

Silsilah dari tuhfat al-nafis tersebut diperkuat oleh silsilah yang ditemukan dan masih dipegang oleh salah seorang kerabat dari bangsawan Bugis Luwu sebagai berikut : 



Perlu Penulis Tekankan Bahwa Silsilah yang mencantumkan nama Rasulullah Muhammad SAW diatas, tidak menggambarkan adanya kekerabatan ataupun garis ke Sawerigading Tapi hanya memperlihatkan Periode, dimana Era Sawerigading lebih dahulu dibanding Era Rasulullah Muhammad SAW.
  

Dari silsilah di atas meskipun kurang jelas terlihat di foto namun pada silsilah aslinya dapat kita telusuri bahwa garis keturunan Batara Guru adalah dari Nabi Ilyas dan Nabi Sulaiman.   menurut buku tuhfat al-nafis penamaan Bugis sendiri berasal dari kaum Putri Balqis  istri dari nabi Sulaimanyang menamai dirinya kaum Bugis.

Mungkin hanya satu kebetulan tapi setelah Saya mengkaji silsilah para rasul memang tidak terlihat atau tertulis siapa keturunan Nabi Ilyas yang melanjutkan generasinya silsilah itu dapat dilihat pada silsilah berikut :

 
Lalu dimana kaitan antara Batara Guru dan Nabi Ilyas,  Ada pendapat yang bersumber dari silsilah di atas bahwa Nasab Lagaligo tertulis sebagai Lagaligo  Bin Sawerigading  bin Batara lattu  bin Batara Guru  Bin Malka Bin Alhair Bin Nabit Bin Nabi Ilyas. Memang ada sedikit perbedaan tapi bisa jadi Tokoh yang dimaksud adalah sama hanya perbedaan penyebutan antara dialeg Timur Tengah dan Bugis. 


Jadi dari manakah asal-usul Suku Bugis sebenarnya ?
 
Kalau menurut pendapat saya pribadi sebagai penulis pastilah rumpun Bugis pun berasal dari nabiyullah Adam alaihissalam yang melahirkan keturunannya dang kemudian keturunan tersebut hampir punah di zaman Nabi Nuh oleh banjir Bah dari kaum Nabi Nuh itulah Kemudian menyebar ke segala penjuru dunia yang kemudian berkembang dan beranak pinak.  Memang ada perselisihan pendapat tentang peristiwa banjir Nabi Nuh ini ada yang berpendapat bahwa banjir tersebut hanya terjadi di suatu tempat yaitu tempat dimana kaum Nabi Nuh bermukim tapi berdasarkan Al-quran sangat jelas bahwa : 


Dan Kami jadikan anak cucunya (Nuh) orang-orang yang melanjutkan keturunan” (As-Shaffat: 77).


Ahli tafsir di kalangan tabi’in, Imam Qatadah, menafsirkan,
الناس كلهم من ذرية نوح عليه السلام
Manusia semuanya adalah keturunan Nuh ‘alaihssalam”1.
Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab sejarah Al-Bidayah wan Nihayah,
فإن الله لم يجعل لأحد ممن كان معه من المؤمنين نسلا ولا عقبا سوى نوح عليه السلام …فكل من على وجه الأرض اليوم من سائر أجناس بني آدم ينسبون إلى أولاد نوح الثلاثة وهم سام وحام ويافث
“Allah tidak menjadikan seorangpun yang bersama Nabi Nuh dari orang-orang yang beriman anak dan keturunan kecuali Nuh ‘alaihis salam saja… Semua yang ada di muka bumi sekarang dinisbatkan kepada ketiga anak Nabi Nuh yaitu Sam, Ham dan Yafidz”2 


Kesimpulan saya pribadi sebagai penulis bahwa penamaan  Bugis besar kemungkinan bersumber dari kaum Putri Balqis yang menamai diri Kaum Bugis, atau Ugi sebagaimana yang terdapat dalam buku Tuhfat Al Nafis, Kaum Ratu Balqis memang dikenal sebagai kaum yang dilimpahi kekayaan alam yang melimpah di negeri Saba.  Negeri Saba sendiri saat ini masih menjadi teka-teki ada yang berpendapat bahwa negeri Saba adalah negeri yang saat ini tenggelam di  di Selat Sunda hamparan lautan Kalimantan Jawa dan Sumatera ataupun termasuk Sulawesi Namun semua itu masih membutuhkan penelitian yang lebih lanjut.  yang pasti bila berbicara tentang Nusantara maka kata kunci yang populer untuk leluhur mereka saat ini adalah Nabi Sulaiman dan Sosok Batara Guru. Penamaan suku Bugis yang dianggap berasal dari kaum Ratu Balqis sebenarnya tidak jauh berbeda seperti penamaan kaum Yahudi yang bersumber dari salah satu Putra Nabi Yaqub A.s, Yaitu Yehuda. Jadi tidaklah mustahil apa yang dituliskan Raja Ali Haji dalam karyanya Tuhfat Al-Nafis yang menuliskan keterkaitan antara Suku Bugis dan Ratu Balqis berserta Nabi Sulaiman.


Eksistensi kata Bugis juga ternyata dikenal sebagai nama sebuah pulau  pada catatan Dinasti Umayyah sekitar abad ke 6/7.  pada catatan tersebut disebutkan bahwa sebuah Negeri bernama Negeri Makassar yang berada di atas Pulau Bugis.  Jika naskah ini benar maka bisa ditarik kesimpulan bahwa pada abad ke-6 dan ke-7adalah era kejayaan Kerajaan Makassar dan sebelumnya itu tentu ada sebab kenapa Pulau ini dinamai Pulau Bugis mungkin berkaitan dengan kejayaan Bugis  dalam naskah Lagaligo ataupun negeri Saba wallahualam. Masing-masing kaum pernah mengalami kejayaan dan keruntuhan, pasang dan surut, tak ada kaum yang sempurna kecuali ALLAH SWT.

Dimasa Dinasti Yuan juga sudah ada yang mencatat penyebutan Wu Chi Shi (Bugis) dan Cyril Hormick ada menemukan Bugis pada abad 1 M karenanya dia menyebutnya tua.


Sebagai penutup saya sampaikan kembali bahwa apa yang saya tulis dasarnya hanya mencari benang merah dari beberapa sumber yang pernah saya baca. Perihal kebenarannnya tentu masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut, Ini hanya sebuah kesimpulan dari cara berfikir. Bangsa Bugis adalah bangsa yang memiliki sejarah dan identitas yang harus terus dikaji sehingga semakin jelas.
Saya pribadi masih memilih untuk menggunakan Naskah La Galigo dan Tuhfat Al Nafis sebagai sumber Utama, Dengan pemikiran bahwa tidak mungkin naskah tersebut dibuat jika tidak memiliki tujuan lebih dari sekedar karya tulis sastra belaka. Tidak mudah menulis 6.000 Halaman dalam aksara Lontara. Begitupun dengan Naskah Tuhfat Al Nafis yang lebih dahulu sudah dimulai penulisannya oleh orang Tua Raja Ali Haji, yaitu Raja Ahmad. Mereka berdua dikenal sebagai sejrawan abad ke 17-19.







Sejarah Kerajaan Bugis Kuno Bone Soppeng Wajo Dari Perspektif I La Galigo Oleh Tenri Ewa

Sejarah Kerajaan Bugis Kuno Bone Soppeng Wajo Dari Perspektif I La Galigo - Beberapa hari belakangan ini saya menyempatkan untuk membaca Naskah I La Galigo terjemahan R.A Kern. Hal dasar yang mendorong saya untuk membacanya adalah rasa penasaran yang mendalam akan apa isi dari buku yang telah mendapat pengakuan UNESCO sebagai karya sastra terpanjang di dunia mengalahkan Mahabarata dari India. Tidak hanya rasa penasaran, tapi ada rasa "tertantang" oleh tindakan orang-orang Belanda untuk mengumpulkan naskah-naskahnya Oleh BF. Matthes, Jonker dan cense. Naskah ini kemudian disadur ulang juga oleh seorang sastrawan wanita sekaligus Raja Wanita yang bernama Ratna Kencana atau Colliq Pujie Arung Pancana Toa pada Abad Ke 18. Butuh waktu sekitar 5 tahunan untuk menyelesaikan project ini. Dan berikutnya, Naskah tersebut kembali diterjemahkan lagi kedalam bahasa Belanda oleh R. A Kern dan Kembali diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia Oleh Gajah Mada University Express.

Maksud dari kata tertantang saya disini adalah, Jika orang "asing" saja segitu antusiasnya untuk menyelamatkan bagian dari Budaya Bugis secara khusus atau Sulawesi secara Umum. Bagaimana mungkin untuk membacanya saja kita tidak punya waktu ?
Padahal berapa waktu yang mereka gunakan untuk mengumpulkan naskahnya kemudian membukukannya dan setelahnya dibukukan kembali diterjemahkan dari Bahasa Bugis ke Bahasa Belanda. Tentu ini bukanlah pekerjaan mudah, namun mereka tetap melakukannya.
Oleh karenanya, ada perasaan yang mengganjal jika kita yang merasa peduli sejarah dan budaya justru tidak menyempatkan diri untuk membaca.

Faktor lain yang menarik minat saya untuk mengkaji buku ini adalah karena seringnya isi buku ini menjadi topik di Grup-Grup sejarah media sosial. Dan ternyata setelah saya sendiri menyempatkan waktu untuk membacanya, ada perasaan sedikit Kaget bahwa ternyata apa yang selama ini orang diskusikan ramai-ramai di media sosial bahkan apa yang orang simpulkan di artikel-artikel webblog sangat jauh dari isi Naskah I La Galigo sebenarnya. Banyak yang menarik kesimpulan secara sepihak tanpa membaca naskhanya secara utuh, bahkan mungkin hanya membaca hasil kesimpulan dari sinopsis buku ini.

Untuk itu hal pertama yang ingin saya sampaikan kepada generasi yang merasa peduli dengan Budaya dan Sejarah Sulawesi adalah :

JANGAN MENGAKU SEBAGAI PEMERHATI BUDAYA ATAU SEJARAH SULAWESI JIKA TIDAK MAU MEMBACA BUKU I LA GALIGO !!!



Sejarah Kerajaan Bugis Kuno Bone Soppeng Wajo Dari Perspektif I La Galigo.

Selama ini jika ada tulisan baik itu dalamn buku, ataupun lewat artikel, jika berbicara tentang sejarah Bugis Kuno atau Purba maka yang dibahas adalah Luwu. Sehingga banyak yang bertanya, ini sejarah Bugis atau Luwu ?

Nahhh untuk mengetahui kenapa ketika berbicara tentang Bugis maka larinya ke Luwu sebaiknya baca sendiri dalam Naskah I La Galigo. Agar anda yang membaca artikel ini bisa mengeluarkan pendapat perbandingan atas apa yang akan saya tuliskan. Karena sekarang ini terlalu banyak muncul orang pintar yang berguru di Google.

Sekedar Gambaran, dalam terjemahan R.A Kern itu dari halaman pertama sampai 200 membahas seputaran manurung di Luwu sampai pada Batara Lattu melahirkan Sawerigading Melalui Istrinya We Datusengngeg, Selebihnya dari halaman 200 Sampai halaman 1000 itu membahas tentang kerajaan UGI yang terletak Di CINA.

Dimanakah wilayah kerajaan CINA yang dimaksud ?
Bisa dipastikan bahwa kerajaan Cina yang dimaksud dalam naskah I La Galigo adalah Daerah Yang saat ini berada pada perbatasan 3 Kabupaten Bone, Soppeng Wajo.

Kerajaan Cina Di Tanah Ugi saat itu adalah kerajaan yang membawahi beberapa Wilayah dan kerajaan Kecil didalamnya seperti :

  • Cina Riaja 
  • Cina Ri Lau
  • Sabbangparu
  • Limpomajang
  • Teyamusu
  • Lamuru
  • Soppeng Riaja
  • Soppeng Rilau
  • Bombangcina
  • Salotungo 
  • Ganra 
  • Lompengeng
  • Tempe
  • Wage
  • Bulu Duwa
Wilayah ini tertulis di Naskah I La Galigo R.A Kern Hal. 241

 Gambar 1 : Naskah La Galigo Versi R.A Kern Hal 241

Pada Gambar diatas yang memperlihatkan Naskah I La Galigo menyebutkan Wilayah-wilayah dalam Lingkup Kerajaan Cina dimasa itu, dimana Wilah tersebut Saat ini semuanya Masih ada di Kabupaten Bone, Soppeng Dan Wajo.

Lebih Lanjut tentang Penyebaran Wilayah kerjaan Cina bisa dilihat pada proses kawin Mawin Putera Puteri La Sattumpugi.

Gambar 2 : Nama-nama Putera dan Puteri La Sattumpugi dengan Suami dan Isteri masing-masing

Gambar 3 : Kelanjutan Nama Putera Puteri Raja La Sattumpugi pada naskah I La Galigo Terjemahan R.A Kern Hal. 239-240

Didalam Kerajaan Cina Nama Istana Utamanya adalah La Tanete.
Tapi kemudian dibangun Istana Oleh Sawerigading di Daerah Mario dengan Nama Istana Mallimongeng.


Gambar 4 : Peta Wilayah Kabupaten Bone
Silahkan Buka Peta Kabupaten Bone, Dan perhatikan sendiri Posisi Kecamatan Cina dan Kecamatan Lainnya :

Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Cina di Kota/Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) :

- Kelurahan/Desa Abbumpungeng
- Kelurahan/Desa Ajangpulu
- Kelurahan/Desa Arasoe
- Kelurahan/Desa Awo
- Kelurahan/Desa Cinennung
- Kelurahan/Desa Cinennung I
- Kelurahan/Desa Kanco
- Kelurahan/Desa Kawerang
- Kelurahan/Desa Lompu
- Kelurahan/Desa Padang Loang
- Kelurahan/Desa Tanete
- Kelurahan/Desa Tanete Harapan
- Kelurahan/Desa Welenreng

Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Salomekko di Kota/Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) :

- Kelurahan/Desa Bellu
- Kelurahan/Desa Gattareng
- Kelurahan/Desa Malimongeng
- Kelurahan/Desa Manera
- Kelurahan/Desa Mappatoba
- Kelurahan/Desa Mappatoba I
- Kelurahan/Desa Pancaitana
- Kelurahan/Desa Tebba
- Kelurahan/Desa Ulu Balang

Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Mare di Kota/Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) :

- Kelurahan/Desa Batu Gading
- Kelurahan/Desa Cege
- Kelurahan/Desa Data
- Kelurahan/Desa Kadai
- Kelurahan/Desa Karella
- Kelurahan/Desa Lakukang
- Kelurahan/Desa Lapasa
- Kelurahan/Desa Lappa Upang
- Kelurahan/Desa Lappa Upang I
- Kelurahan/Desa Mario
- Kelurahan/Desa Mattampa Walie

Silahkan perhatikan nama Wilayah yang disebutkan dahulu sebagai wilayah kerajaan Cina yang dimana saat ini semua wilayah tersebut masih ada.

Lalu bagaimana dengan kecamatan Pammana yang di Wajo yang didalamnya terdapat kelurahan Cina ?
Yang perlu kita ketahui bahwa Wilayah kerajaan Cina pada Masanya memliki wilayah yang membentang sepanjang pesisir Teluk Bone Diantaranya Dua Wilayah Sabbangparu dan Tempe yang saat ini menjadi Wilayah Kabupaten Wajo.

Gambar 5 : Peta Wilayah kabupaten Wajo

Bisa dipastikan Kecamatan Pammana saat ini adalah wilayah yang dulunya termasuk keraajaan Cina, Mungkin salah satu dari Cina Riaja atau Cina Rilau. Bukti nyatanya adalah kedatuan Cina yang kemudian hari berubah nama menjadi Kedatuan Pammana.

Sedikit Ulasan Tentang Ulasan Cina dan Pammana Yang saya Copy Dari Salah Satu Sumber Blog  http://lagosi.blogspot.co.id/2011/12/asal-mula-kerajaan-pammana.html :

Sebelum menjadi kerajaan,  Pammana di kenal dengan nama kerajaan Cina, pergantian kerajaan Cina menjadi kerajaan Pammana perkiraan terjadi pada abad ke 15M dan kerajaan Cina di pimpin oleh seorang raja yang sangat bijaksaan bernama Aji Sangaji Pammana. Aji Sangaji Pammana tidak mempunyai keturunan sedangkan beliau sangat di junjung tinggi oleh rakyatnya karna rakyatnya menginginkan raja di kenang sepanjang masa maka menghadaplah rakyatnya kepada sang Datu untuk meminta sesuatu dari Datunya yang bisa di kenang sampai ke anak cucunya atau peninggalan yang monumental. Sang Datu meminta kepada rakyatnya "kalau kau ingin mengenang saya sepanjang masa gantilah nama kerajaan Cina dan ambil nama saya untuk di abadikan menjadi nama kerajaan" maka pada saat itu pula Cina di ganti menjadi kerajaan Pammana di ambil dari nama belakang sang raja yaitu Aji Sangaji Pammana.

Kemudian rakyat meminta supaya sang raja memilih penggati sendiri karna tidak adanya putra mahkota, maka raja meminta sepeninggalnya nanti ada dua keponakannya yang layak menggantikan kedudukannya sebagai raja antara lain ( La Tenri Dolong Arung Liu kemudian La Tenri Ranreng Arung Baringeng) maka rakyat menghadap kepada Arung Matua Latadang Pare Yang di kenal dengan gelar Puang Ri Maggalatung untuk menyampaikan pesan dari rajanya sebelum meninggal bahwa nama Cina di ganti dengan nama rajanya sedangkan pengganti rajanya di tunjuk salah satu dari dua keponakannya nah itu lah La Tenri Dolong Arung Liu dengan La Tenri Ranreng Arung Baringeng. La Tenri Rangreng tidak sanggup mengembang amanat dari sang raja maka jatuhlah La Tenri Dolong Arung Liu Pilihan kepada La Tenri Dolong Arung Liu menjadi raja pertama bergelar Datu Pammana.

Berhubung adanya fase sejarah yang belum ditemukan (hilang) setelah periode La Galigo hingga pada sekitaran abad ke- 13 maka agak sulit mencari silsilah secarah utuh yang menghubunngkan Raja Cina abad ke 13 sampai ke Raja Cina terakhir yang dikisahkan dalam Epos La Galigo yaitu La Tenri Tatta Putera La Galigo dengan salah satu istirnya We Tenrigangka.

Lalu bagaimana eksistensi kerajaan Cina dan Kaitannya dengan Kerajaan Bone diabad ke 13 ?



Kerajaan Tanah Bone dahulu terbentuk pada awal abad ke- 13 atau pada tahun 1330, namun sebelum Kerajaan Bone terbentuk sudah ada kelompok-kelompok dan pimpinannya digelar KALULA Dengan datangnya LA UBBI yang digelar TO MANURUNG ( Manurungge Ri Matajang ) atau MATA SILOMPO-E. maka terjadilah penggabungan kelompok-kelompok tersebut termasuk Cina, Barebbo, Awangpone dan Palakka. Pada saat pengangkatan TO MANURUNG MATA SILOMPO- E menjadi Raja Bone, terjadilah kontrak pemerintahan berupa sumpah setia antara rakyat Bone dalam hal ini diwakili oleh penguasa Cina dengan 10 MANURUNG , sebagai tanda serta lambang kesetiaan kepada Rajanya sekaligus merupakan pencerminan corak pemerintahan Kerajaan Bone diawal berdirinya. Disamping penyerahan diri kepada Sang Raja juga terpatri pengharapan rakyat agar supaya menjadi kewajiban Raja untuk menciptakan keamanan, kemakmuran, serta terjaminnya penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat. Adapun teks Sumpah yang diucapkan oleh penguasa Cina mewakili rakyat Bone berbunyi sebagai berikut ;

“ ANGIKKO KURAUKKAJU RIYAAOMI’RI RIYAKKENG

KUTAPPALIRENG ELOMU ELO RIKKENG ADAMMUKKUWA MATTAMPAKO

KILAO.. MALIKO KISAWE. MILLAUKO KI ABBERE.

MUDONGIRIKENG TEMMATIPPANG. MUAMPPIRIKKENG

TEMMAKARE. MUSALIMURIKENG TEMMADINGING “

Terjemahan bebas ;

“ ENGKAU ANGIN DAN KAMI DAUN KAYU, KEMANA BERHEMBUS KESITU

KAMI MENURUT KEMAUAN DAN

KATA-KATAMU YANG JADI DAN BERLAKU ATAS KAMI, APABILA ENGKAU

MENGUNDANG KAMI MENYAMBUT

DAN APABILA ENGKAU MEMINTA KAMI MEMBERI, WALAUPUN ANAK

ISTRI KAMI JIKA TUANKU TIDAK SENANGI KAMIPUN TIDAK

MENYENANGINYA, TETAPI ENGKAU MENJAGA KAMI AGAR TENTRAM,

ENGKAU BERLAKU ADIL MELINDUNGI AGAR KAMI MAKMUR

DAN SEJAHTERA ENGKAU SELIMUTI KAMI AGAR TIDAK KEDINGINAN ‘

Dengan demikian, tidak ada yang perlu diperdebatkan antara Cina Pammana Wajo dan Cina Bone. Kedua Kecamatan yang saat ini telah dipisahkan atas nama Kabupaten dulunya adalah 1 Wilayah dibawah naungan kerajaan Bugis Kuno. Hanya saja saya pribadi cenderung berpendapat bahwa kerajaan Ugi Cina Kuno dulunya berpusat di Kecamatan Cina Bone dengan Istana La Tanete.
Dasar pendapat saya adalah karena :

  1. Di Kecamatan Cina Bone saat ini ada 3 Desa yang namanya berhubungan dengan Nama Kerajaan Cina Kuno Yaitu Desa Tanete yang identik dengan Istana La Tenete dan Desa Walenreng yang identik dengan Nama Kapal Sawerigading.
  2. Istana Yang dibuat Sawerigading di Mario yang dalam naskahnya digambarkan berada tidak terlalu jauh di Sebelah timur Istana La Tanete, Dengan Nama Istana Mallimongeng Saat ini nama tersebut tercatat sebagai nama Desa Mallimongeng di Kecataman Salomekko dan Desa Mario di Kecamatan Mare'. Nama Mare ini juga selalu disebutkan dalam buku I La Galigo tapi penerjemah menulisnya sebagai Nama Maru'. Ada kemungkinan Maru' yang dimaksud adalah Mare'.
  3. Disebutnya Wilayah Tempe dan Wage serta Bulu Dua sebagai Wilayah yang jauh dari Ibu Kota kerjaan Cina (Silahkan Baca pada Nashkah I La Galigo Pada Hal. 241 atau Gambar 1 Sebelumnya). Jika dahulu Pusat kerajaan berada di Kec Pammana Saat ini maka tentu saja Tempe dan Wage bukanlah wilayah Jauh dibanding wilayah lain seperti Lamuru Dan Wilayah Soppeng Lainnya.

Dengan analisa peta wilayah diatas maka saya berpendapat bahwa pusat kerajaan Cina Kuno berada di Kecamatan Cina Bone saat ini, Akan tetapi itu hanyaal sebatas pendapat yang masih perlu kajian lebih lanjut lagi. Yang pasti antara Cina Pammana Wajo dan Cina Bone dulunya adalah 1 Wilayah kerajaan.


Yang menarik berikutnya adalah, adanya pendapat yang meyamakan antara Cina Bone Soppeng Wajo (Bosowa) dan Cina Tiongkok.
Mungkin munculnya perbedaan pendapat ini karena banyaknya naskah I La Galigo yang tersebar dalam beberapa Jilid.
Diantaranya ada jilid khusus yang menceritakan pengembaraan Sawerigading dengan Kapal La Walenreng beserta ratusan armada kapalnya ke berbagai Negeri. Tidak tertutup kemungkinan beliau memang pernah sampai ke China Tiongkok,
Tapi jika yang dimaksud disini adalah Negeri asal We Cudai yang dikisahkan pada  naskah I La Galigo terjemahan R.A Kern maka saya pastikan Cina tersebut Bukan Tiongkok melainkan Cina Bosowa. Kebanyakan dasar dari mereka yang berpendapat bahwa Cina yang dimaksud tempat We Cudai adanya Tiongkok adalah analisis dari Lamanya perjalanan Sawerigading Ke Cina pada saat akan melamar We Cudai.

Padahal pada kelanjutan naskahnya setelah We Cudai dan Sawerigading menikah dan Melahirkan I La Galigo. Dikisahkan perjalanan I la Galigo kecil waktu berlayar pertama kali ke Negeri Luwu tempat Neneknya Batara Lattu dan We Datusengeng. Hanya selama 5 hari 5 malam perjalanan, Jadi adalah sesutau yang mustahil jika itu dari Cina Tiongkok, dan semakin Mustahil lagi jika melihat ulasan saya diatas tentang Wilayah-wilayah kerajaan Ugi Cina. We Cudai pada Mulanya juga dikisahkan bertunangan dengan Setya Bonga, Pangerann dari Wolio Buton. Nah... kalau We Cudai saat itu ada di China Tiongkok masa iya sih tunangannya sampai ke Buton Sulawesi tenggara saat ini.

Kalau yang dijadikan dasar hanya karena lamanya proses perjalanan yang ditempu Sawerigading saat berlayar dari Luwu Ke Cina maka kita perlu mengkaji intrik-intrik dalam kisah ini sebelum Sawerigading melakukan perjalanan. Dimana pada saat Sawerigading dengan Gejolak ambisinya yang menggebu-gebu ingin menemui We Cudai. Oleh penasehat istana Luwu saat itu Sawerigading dilarang melakukan pelayaran saat itu. Dalam artian diminta menunggu waktu yang tepat. Jika Sawerigading memaksa melakukan perjalanan saat itu juga maka diramalkan dia akan menemui banyak hal buruk.

Yang dimaksud waktu yang kurang tepat disini berhubungan dengan kondisi cuaca, dimana pelayaran pada zaman dahulu penunjang utamanya adalah arah angin dan cuaca.
Hal itu bisa dilihat dari prediksi penasehat yang memperkirakan kalau Rute yang akan dilalui jika mengadakan perjalanan saat itu juga adalah rute dimana terdapat banyak Bajak Laut dan itu benar terbukti. Rute yang dilalui kemudian mempertemukan kapal Sawerigading dengan beberapa Rombongan bajak laut yang menghambat perjalanan beliau. Itu artinya bahwa Sawerigading saat berlayar menuju Cina pada saat tersebut harus melalui rute yang tidak biasa karena faktor arah angin.

Nama-nama Bajak Laut yang dijumpai adalah :

  1. Bannya Paguling Di Mancapai, nah... nama Mancapai saat ini ada di Gowa dan juga di Sulawesi tenggara.
  2. La Tuppusolo, Namanya menggunakan La, jelas beliau bukanlah orang luar Sulawesi
  3. La Tuppugella, Namanya pun menggambarkan bukan nama yang asing
  4. La Tuppugella Panjunglimpo, 
  5. La Tenripula
  6. La Tenrinyiwi
  7. Setyabonga (Pangeran Wolio/Buton) bukan bajak laut tapi tunangan We Cudai
Melihat nama-nama diatas maka terlalu jauh jika kita menyimpulkan bahwa Sawerigading berlayar ke Tiongkok saat itu. Dan pendapat yang menyamakan antara Cina dalam naskah La Galigo dengan China Tiongkok adalah pendapat yang bagi saya kurang tepat yang justru mengaburkan sejarah kerajaan Ugi Kuno yang bernama Cina dimana berada pada daratan Bone, Soppeng dan Wajo.