Kamis, 29 April 2010


Fenomena Ujian Nasional Dan System Pendidikan Indonesia

Fenomena Ujian Nasional Dan System Pendidikan Indonesia - Gara-gara banyak mendengar keluhan dari adik-adik yang masih sekolah baik yang masih SLTP maupun SMU saya jadi tertarik menulis artikel ini. Keluhan mereka tentunya mengenai sistem ujian akhir nasional sekarang yang standar kelulusannya terus meningkat. Apa yang menyebabkan mereka mengeluh saya sangat mengerti karena hal tersebut juga pernah saya rasakan, berbeda dengan senior kita yang terlebih dahulu menyelesaikan pendidikannya. Sebagai seorang manusia biasa seperti saya dimana hanya memiliki pengetahuan yang sangat sedikit, saya yakin apa yang diputuskan oleh pemimpin kita tentu adalah hal yang disertai dengan pertimbangan yang sangat bijak. Tapi adakah jaminan bahwa apa yang mereka putuskan selalu tepat ? Biarkan suara terbanyak yang menilai. System pendidikan yang telah dibuat pemerintah sekarang pasti tujuannya adalah untuk memperbaiki kualitas dan mutu pelajar Indonesia. Tujuan ini adalah tujuan yang sangat mulia, tapi menurut saya apa yang dilihat dan dinilai dari suatu system itu adalah hasilnya. Lalu bagaimana kwalitas dan mutu pendidikan sekarang dibanding tahun-tahun sebelumnya ? Apakah semakin membaik ?

Pada kenyataannya kwalitas pendidikan Indonesia malah semakin menurun (Saya membandingkan prestasi dan kemampuan sisawa sekarang dibanding kangkatan saya dulu kelihatannya lebih buruk). Bagaimana tidak, siswa yang mengikuti ujian akhir nasional sekarang yang disingkat UAN justru sangat terbebani dengan standar kelulusan yang ada. Ibaratnya mereka mereka berlari dikejar sesuatu bukan berlari mengejar sesuatu. Permasalahannya adalah mana mungkin sekolah yang memiliki fasilatas unggulan disamakan dengan sekolah pedesaan yang kualitasnya sangat memprihatinkan. Untuk gambarannya silahkan perhatikan perbedaan kedua gambar dibwaha ini :

Ruang Kelas Unggulan

Ruang Kelas memprihatinkan
Seharusnya yang dilakukan pemerintah adalah memperbaiki fasilitas pendidikan terlebih dahulu kemudian memberlakukan standar kelulusan yang maksimal. Karena pada faktanya walaupun sulit dibuktikan saya sering mendengar informasi dari adik-adik pelajar bahwa mereka yang lulus itu karena mendapatkan bantuan dari gurunya. Mungkin hal ini terpaksa dilakukan oleh guru karena apabila siswa mereka tidak lulus maka merupakan kegagalan pula bagi pengajar. Jadi kalau kenyataannya seperti ini apakah ini akan memperbaiki mutu pendidikan ?

Kalau pemerintah memang peduli seharusnya dilakukan evaluasi kembali terhadap system pendidikan sekarang. Dalam mendidik sesuatu ada 2 metode yang sering dilakukan, yaitu :

1. Memberi hukuman saat melanggar, dan
2. Memberi hadiah disaat berprestasi.

Metode ini pernah diterapkan pada pelatih Binatang peliharaan dimana 2 ekor Anjing dilatih secara bersama dengan metode yang berbeda diantara keduanya. Anjing pertama dilatih dengan metode apabila berbuat kesalahan langsung diberi hukuman berupa cambukan dan apabila melakukan hal yang benar tidak mendapatkan apapun. Sedangkan Anjing yang satunya lagi ketika melanggar tidak diberi hukuman dan sebaliknya apabil berbuat benar maka diberi hadiah berupa makanan. Setelah dilatih dalam jangka waktu yang sama ternyata hasilnya Anjing yang dilatih dengan metode memberi hadiah hasilnya jauh lebih berhasil dibanding Anjing yang satunya lagi.

Kaitannya dengan system pendidikan sekarang saya melihat metode yang ada masih mayoritas memberi hukuman dibanding memberi hadiah. Padahal seharusnya hal itu dilakukan paling tidak seimbang karena saya juga tidak sepakat kalau hukuman di tiadakan, Allah swt sendiri sangat adil, dia menyediakan hadiah bagi hambanya yang banyak berbuat benar dan mempersiapkan hukuman bagi hambanya yang banyak melanggar.

Khusus bagi system UAN sejkarang juga masih mayoritas hukuman dari pada hadiah, siswa lebih dihantui rasa takut dari pada rasa bahagia. Jadi kembali kepada apa yang saya utarakan sebelumnya yaitu mereka berlari karena dikejar sesuatu bukan mengejar sesuatu. Seharusnya pemerintah mengeluarkan peraturan seperti ini, UAN tetap ada tapi mereka mempersiapkan hadiah berupa beasiswa tunai (misalnya) bagi siswa yang bisa lulus dengan minimal rata-rata 6,0 misalnya dan semakin tinggi nilai rata-rata yang diperoleh semakin besar pula nilai hadiah yang diperoleh. Sebaliknya bagi siswa yang prestasinya buruk atau sangat buruk maka serahkan pada pihak sekolah untuk menentukan apakah siswa ini layak di luluskan atau tidak. Karena menurut saya yang lebih tau kualitas siswa adalah pihak sekolah. Kalau dilihat system yang berlaku sekarang malah banyak siswa yang hitungannya berpresatasi malah tidak lulus dan banyak siswa yang memiliki prestasi buruk malah sebaliknya siswa tersebut yang lulus.
Saya yakin dengan adanya iming-iming hadiah bagi siswa maka siswa akan belajar dengan rasa tenang dan maksimal tanpa dihantui rasa takut yang berlebih. Untuk pengawasan proses UAN sendiri harus diawasi seketat mungkin agar tidak terjadi kecurangan. Dengan metode seperti ini pasti hasilnya akan lebih baik !

Salam : Basri Tamang

0 komentar:

Posting Komentar

Anda tidak diperbolehkan berkomentar bersifat promosi produk yang sama dengan di artikel, Apabila anda tetap berkomentar maka komentar anda akan kami Hapus