Kamis, 09 November 2017


Asal Usul Suku Bugis Sulawesi Selatan Oleh Tenri Ewa


Oleh : Tenri Ewa

Bismillahirahmanirrahiem


Pertama-tama saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala jika sekiranya dalam tulisan saya ini terdapat kekeliruan yang akan  menimbulkan mudharat bagi pembaca.  Dan yang kedua saya mohon maaf kepada seluruh pembaca jika sekiranya terdapat kekeliruan dalam tulisan saya ini.

Saya bukanlah seorang sejrawan, melainkan hanya penikmat sejarah yang suka menyimak pada saat terjadi diskusi bertema sejarah dan budaya pada beberapa grup media sosial terutama Facebook khususnya sejarah yang berkaitan dengan Suku Bugis Atau Sulawesi.


Hal berikut yang saya rasa penting untuk saya sampaikan bahwa apa yang saya tulis ini bukanlah kebenaran mutlak tapi hanya merupakan kesimpulan dari proses olah pikir dari beberapa sumber yang pernah saya baca baik yang tertulis ataupun sumber yang dituturkan.  Apakah kemudian tulisan saya ini berisi kebenaran sepenuhnya dikembalikan kepada pembaca dan mungkin diharapkan adanya penelitian lebih lanjut tentang apa yang saya sampaikan pada tulisan ini.


Yang akan saya sampaikan bukanlah suatu hal baru Namun saya hanya merangkai beberapa sumber sejarah yang telah leluhur kita abadikan melalui naskah tulis.  


Kembali ke judul tentang asal-usul Suku Bugis di Sulawesi Selatan.  tentu saat pembaca mencari di Google dengan keyword asal-usul Suku Bugis maka akan anda temui banyak sekali tulisan yang membahas tentang tema ini tapi Insya Allah apa yang akan saya Tuliskan mungkin sedikit berbeda dengan tulisan yang lain.


Pada saat saya memulai untuk  mengkaji tentang sejarah atau asal-usul Suku Bugis naskah paling pertama yang saya baca adalah naskah La Galigo.  Meskipun banyak yang beranggapan bahwa naskah I La Galigo hanya sebuah sastra yang tidak bisa dijadikan sumber sejarah. Namun setiap manusia tentu bisa berpendapat karena pendapat yang mengatakan bahwa karya sastra I La Galigo hanya sebuah sastra pun merupakan pendapat dari manusia.  


Jadi saya sebagai salah satu Manusia ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala tentu berhak untuk berpendapat tentang apa yang tertulis dalam naskah I Lagaligo kisahcerita yang didalamnya terkandung kisah sejarah hanya saja yang menjadi masalah adalah penempatan periode masa I La Galigo terjadi, karena jika penempatan periode masa peristiwa dalam cerita La Galigo tidak tepat maka cerita yang ada didalamnya akan menjadi mitos tapi jika ditempatkan pada priodenya maka cerita tersebut bukanlah mitos tentu saja dengan membandingkan kisah-kisah yang pernah terjadi dalam Al-quran misalnya, bagaimana Nabi Muhammad pernah menaiki langit yang berjumlah tujuh lapis, bagaimana Nabi Isa dan Ilyas mampu menghidupkan orang mati dengan seizin Allah tentunya dan bagaimana Nabi Daud pernah bertarung dengan sosok raksasa yang disebut Goliath. kesemua kisah-kisah itu seandainya tidak dikisahkan dalam Alquran maka tentu menjadi hal yang mustahil bagi kita apabila kacamata yang digunakan adalah kacamata kekinian.

Saya pribadi memandang dan berpendapat bahwa kisah atau peristiwa yang dikisahkan dalam naskah I La Galigo adalah kisah yang terjadi sebelum abad Masehi, Bukan abad 7-9 apalagi 11. alasannya ada beberapa hal :

Analisa Pertama, pada abad ke 7-9 umur manusia tidak lagi panjang seperti pada era sebelum rasulullah Muhammad SAW. Pada abad 7-9 ini tidak ada lagi atau sudah sangat jarang manusia yang berumur diatas 200 tahun. Sementara tokoh dalam cerita naskah La Galigo dapat dianalisa umurnya seperti halnya Usia tokoh La Patigana (PatotoE) yang masih hidup hingga generasi ke 7 keturunannya yakni La Patigana – Batara Guru – Batara Lattu – Sawerigading – La Galigo – La Mappangandro – Apumperenneng.
Jika dianalisa, seseorang yang mampu bertahan hidup hingga generasi ke 7 sudah pasti umurnya diatas 200 tahun yaitu bisa mencapai usia 500 tahun. Penulis mengambil dasar perbandingan antara umur Nabi Adam a.s. yang hidup hingga cucu generasi ke 9 sebelum Nabi Nuh a.s. Sementara umur Nabi Adam a.s. dari beberapa dalil disebutkan mencapai 1000 tahun.

Analisa kedua adalah tentang penyebutan masa PARIAMA (Periode), tidak ada keterangan pasti 1 (satu) Pariama itu berapa tahun lamanya. Namun dalam Naskah La Galigo terjemahan  R.A Kern disebutkan bahwa 1 (satu) Pariama adalah hitungan masa seorang wanita hingga mencapai usia layak nikah. Jika kita mengambil patokan kekinian maka usia layak nikah untuk gadis kekinian adalah 15-17 tahun. Dalam penggalan kisah Naskah La Galigo dikisahkan bahwa baginda Sawerigading meninggalkan Luwu di usia muda setelah menikah dengan beberapa sepupunya kemudian mencari jodohnya di Kerajaan Cina (Bone, Wajo, Soppeng saat ini) yang bernama We Cudai. Dikisahkan bahwa Sawerigading meninggalkan kerajaan Luwu selama 10 Pariama, berarti jika dikonversi keperhitungan tahun Sawerigading meninggalkan Luwu sekitaran 170 tahun (bisa lebih). Yang unik adalah saat Sawerigading kembali ke kerajaan Luwu We Cudai yang seharusnya sudah berumur sekitar 200 tahun masih melahirkan keturunan yaitu seorang puteri bernama Mutia Toja. Jika berdasar analisa pribadi tidak mungkin era dari latar kisah ini pada abad ke 7-9 karena wanita yang berumur 200 tahun secara normal tidak akan bisa lagi melahirkan anak karena telah mencapai masa usia yang disebut monopouse.

Analisa ketiga, dari Naskah terjemahan R.A Kern ataupun Naskah Lain yang menceritakan tentang kisah La Galigo. Tidak ada penyebutan masa yang menyebutkan tentang BULAN atau TAHUN. Maksud saya adalah lama periode tidak pernah disebut dalam masa bulan dan tahun misalnya, Sawerigading berlayar selama 2 Bulan atau 3 Bulan, atau Sawerigading meninggalkan Luwu selama 100 tahun.
Dalam kisah La Galigo sekali lagi masa hanya diukur dengan hitungan hari dan Pariama (Periode) sehingga saya menarik kesimpulan bahwa pada masa tersebut baik tokoh ataupun penutur kisah ini BELUM MENGENAL PENANGGALAN MASEHI ATAUPUN HIJRIYAH. Padahal jika benar Sawerigading bisa sampai ke China Tiongkok berarti seharusnya manusia Sulawesi pada era itu sudah berada pada abad setelah masehi dan hijriyah. Jadi saya pribadi berkesimpulan bahwa era La Galigo adalah sebelum masehi.

Analisa keempat adalah beberapa peristiwa yang memang tidak sinkron dengan era abad 7-9 misalnya, disebut tokoh yang memiliki badan besar (Raksasa) seperti Halnya I La Gongkona  yang bertugas menjaga Kapal Sawerigading yang mana jarak antara kedua matanya saja selebar panjang lengan (sesiku) manusia normal Zaman itu, Beliau juga yang disebut La Pitureppa Rawoale . Setahu saya pada era abad 7-9 tidak dikenal lagi sosok raksasa namun pada Era Nabi Daud (Ayah Nabi Sulaiman) masih dikenal sosok Raksasa yaitu Goliath. Tentang kemampuan menghidupkan manusia yang telah meninggal hanya pernah dikisahkan pada era Nabi Ilyas dan Nabi Isa. Yang menghidupkan tentu ALLAH tapi ada manusia yang diberi kemampuan khusus.

Analisa berikutnya yang mungkin sedikit liar dan melenceng adalah ingatan saya tentang kisah Nabi Adam yang dipercayai semua agama samawi sebagai manusia pertama di bumi dikisahkan memiliki 41 anak keturunan (Putera Puteri). Dimana ke 40 Keturunannya ini selain Nabi Sith lahir dengan kondisi kembar Emas (Bugis : Dinru Ulaweng) (Kembar Lelaki Dan Perempuan) Entah hanya sebuah kebetulan dalam kisah La Galigo pun dijumpai banyak sekali Tokoh yang lahir kembar emas termasuk tokoh utamanya yakni Sawerigading dan We Tenriabeng. Berdasarkan ilmu biologi tentang teori genetika maka bisa dipastikan anak Nabi Adam yang semuanya kembar emas pasti ada diantara mereka yang mewarisi gen keturunan kembar ini seperti halnya gen raksasa Nabi Adam yang masih diturunkan sampai saat ini meskipun tingginya perlahan mulai berkurang. Tapi saat ini kita masih biasa menjumpai manusia berukuran tinggi diatas normal begitu juga manusia yang lahir kembar pria dan wanita.


Beberapa analisis-analisis di atas lah yang menyebabkan saya berpikir bahwa era peristiwa I La Galigo  terjadi sebelum Masehi.  Dan peristiwa yang dikisahkan di dalamnya adalah sebuah peristiwa yang berisi kebenaran.

Berikut adalah silsilah khusus tokoh ilagaligo yang saya buat sendiri dari sumber terjemahan naskah Lagaligo oleh R.A Kern.


Dan berikut adalah silsilah lain yang menarik untuk dikaji :
Silsilah Oleh C. Pelras

Sisilah Oleh par Gilbert Hamonic
 
Dari silsilah di atas sangat jelas bahwa Batara Guru adalah manusia yang memiliki garis keturunan ke atas ataupun ke bawah jadi bukanlah manusia pertama. Lalu Siapa orang tua dan garis keturunan sosok Batara Guru,  pada silsilah di atas sebenarnya sudah terlihat.  dan diperkuat oleh Silsilah yang terdapat pada buku  Tuhfat al-nafis.


Naskah tuhfat al-nafis adalah naskah yang ditulis oleh raja Ali Haji dari Riau seorang raja berdarah Bugis yang ditulis sekitar abad 18-19.

Silsilah dari tuhfat al-nafis tersebut diperkuat oleh silsilah yang ditemukan dan masih dipegang oleh salah seorang kerabat dari bangsawan Bugis Luwu sebagai berikut : 



Perlu Penulis Tekankan Bahwa Silsilah yang mencantumkan nama Rasulullah Muhammad SAW diatas, tidak menggambarkan adanya kekerabatan ataupun garis ke Sawerigading Tapi hanya memperlihatkan Periode, dimana Era Sawerigading lebih dahulu dibanding Era Rasulullah Muhammad SAW.
  

Dari silsilah di atas meskipun kurang jelas terlihat di foto namun pada silsilah aslinya dapat kita telusuri bahwa garis keturunan Batara Guru adalah dari Nabi Ilyas dan Nabi Sulaiman.   menurut buku tuhfat al-nafis penamaan Bugis sendiri berasal dari kaum Putri Balqis  istri dari nabi Sulaimanyang menamai dirinya kaum Bugis.

Mungkin hanya satu kebetulan tapi setelah Saya mengkaji silsilah para rasul memang tidak terlihat atau tertulis siapa keturunan Nabi Ilyas yang melanjutkan generasinya silsilah itu dapat dilihat pada silsilah berikut :

 
Lalu dimana kaitan antara Batara Guru dan Nabi Ilyas,  Ada pendapat yang bersumber dari silsilah di atas bahwa Nasab Lagaligo tertulis sebagai Lagaligo  Bin Sawerigading  bin Batara lattu  bin Batara Guru  Bin Malka Bin Alhair Bin Nabit Bin Nabi Ilyas. Memang ada sedikit perbedaan tapi bisa jadi Tokoh yang dimaksud adalah sama hanya perbedaan penyebutan antara dialeg Timur Tengah dan Bugis. 


Jadi dari manakah asal-usul Suku Bugis sebenarnya ?
 
Kalau menurut pendapat saya pribadi sebagai penulis pastilah rumpun Bugis pun berasal dari nabiyullah Adam alaihissalam yang melahirkan keturunannya dang kemudian keturunan tersebut hampir punah di zaman Nabi Nuh oleh banjir Bah dari kaum Nabi Nuh itulah Kemudian menyebar ke segala penjuru dunia yang kemudian berkembang dan beranak pinak.  Memang ada perselisihan pendapat tentang peristiwa banjir Nabi Nuh ini ada yang berpendapat bahwa banjir tersebut hanya terjadi di suatu tempat yaitu tempat dimana kaum Nabi Nuh bermukim tapi berdasarkan Al-quran sangat jelas bahwa : 


Dan Kami jadikan anak cucunya (Nuh) orang-orang yang melanjutkan keturunan” (As-Shaffat: 77).


Ahli tafsir di kalangan tabi’in, Imam Qatadah, menafsirkan,
الناس كلهم من ذرية نوح عليه السلام
Manusia semuanya adalah keturunan Nuh ‘alaihssalam”1.
Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab sejarah Al-Bidayah wan Nihayah,
فإن الله لم يجعل لأحد ممن كان معه من المؤمنين نسلا ولا عقبا سوى نوح عليه السلام …فكل من على وجه الأرض اليوم من سائر أجناس بني آدم ينسبون إلى أولاد نوح الثلاثة وهم سام وحام ويافث
“Allah tidak menjadikan seorangpun yang bersama Nabi Nuh dari orang-orang yang beriman anak dan keturunan kecuali Nuh ‘alaihis salam saja… Semua yang ada di muka bumi sekarang dinisbatkan kepada ketiga anak Nabi Nuh yaitu Sam, Ham dan Yafidz”2 


Kesimpulan saya pribadi sebagai penulis bahwa penamaan  Bugis besar kemungkinan bersumber dari kaum Putri Balqis yang menamai diri Kaum Bugis, atau Ugi sebagaimana yang terdapat dalam buku Tuhfat Al Nafis, Kaum Ratu Balqis memang dikenal sebagai kaum yang dilimpahi kekayaan alam yang melimpah di negeri Saba.  Negeri Saba sendiri saat ini masih menjadi teka-teki ada yang berpendapat bahwa negeri Saba adalah negeri yang saat ini tenggelam di  di Selat Sunda hamparan lautan Kalimantan Jawa dan Sumatera ataupun termasuk Sulawesi Namun semua itu masih membutuhkan penelitian yang lebih lanjut.  yang pasti bila berbicara tentang Nusantara maka kata kunci yang populer untuk leluhur mereka saat ini adalah Nabi Sulaiman dan Sosok Batara Guru. Penamaan suku Bugis yang dianggap berasal dari kaum Ratu Balqis sebenarnya tidak jauh berbeda seperti penamaan kaum Yahudi yang bersumber dari salah satu Putra Nabi Yaqub A.s, Yaitu Yehuda. Jadi tidaklah mustahil apa yang dituliskan Raja Ali Haji dalam karyanya Tuhfat Al-Nafis yang menuliskan keterkaitan antara Suku Bugis dan Ratu Balqis berserta Nabi Sulaiman.


Eksistensi kata Bugis juga ternyata dikenal sebagai nama sebuah pulau  pada catatan Dinasti Umayyah sekitar abad ke 6/7.  pada catatan tersebut disebutkan bahwa sebuah Negeri bernama Negeri Makassar yang berada di atas Pulau Bugis.  Jika naskah ini benar maka bisa ditarik kesimpulan bahwa pada abad ke-6 dan ke-7adalah era kejayaan Kerajaan Makassar dan sebelumnya itu tentu ada sebab kenapa Pulau ini dinamai Pulau Bugis mungkin berkaitan dengan kejayaan Bugis  dalam naskah Lagaligo ataupun negeri Saba wallahualam. Masing-masing kaum pernah mengalami kejayaan dan keruntuhan, pasang dan surut, tak ada kaum yang sempurna kecuali ALLAH SWT.

Dimasa Dinasti Yuan juga sudah ada yang mencatat penyebutan Wu Chi Shi (Bugis) dan Cyril Hormick ada menemukan Bugis pada abad 1 M karenanya dia menyebutnya tua.


Sebagai penutup saya sampaikan kembali bahwa apa yang saya tulis dasarnya hanya mencari benang merah dari beberapa sumber yang pernah saya baca. Perihal kebenarannnya tentu masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut, Ini hanya sebuah kesimpulan dari cara berfikir. Bangsa Bugis adalah bangsa yang memiliki sejarah dan identitas yang harus terus dikaji sehingga semakin jelas.
Saya pribadi masih memilih untuk menggunakan Naskah La Galigo dan Tuhfat Al Nafis sebagai sumber Utama, Dengan pemikiran bahwa tidak mungkin naskah tersebut dibuat jika tidak memiliki tujuan lebih dari sekedar karya tulis sastra belaka. Tidak mudah menulis 6.000 Halaman dalam aksara Lontara. Begitupun dengan Naskah Tuhfat Al Nafis yang lebih dahulu sudah dimulai penulisannya oleh orang Tua Raja Ali Haji, yaitu Raja Ahmad. Mereka berdua dikenal sebagai sejrawan abad ke 17-19.







7 komentar:

Seangk Jieenertt on 10 November 2017 23.01 mengatakan...

Tabe saya Izin Copas Opu...

Tenri Ewa on 12 November 2017 01.32 mengatakan...

Iye silahkan ndi....

Unknown on 16 November 2017 14.59 mengatakan...

Mattempe-temme sedding baca na

ahsan jafar on 16 November 2017 15.29 mengatakan...

Seddi'to pendapa. Mencerahkan...

ahsan jafar on 16 November 2017 15.29 mengatakan...

Seddi'to pendapa. Mencerahkan...

Syamsul Nur on 17 November 2017 02.03 mengatakan...

Inilah yg harus d publikasikan, karna bnyak Anak" muda sekarang tdak mngetahui lgi Asal Usul Bugis.

coyz natsir on 17 November 2017 02.51 mengatakan...

👍

Posting Komentar

Anda tidak diperbolehkan berkomentar bersifat promosi produk yang sama dengan di artikel, Apabila anda tetap berkomentar maka komentar anda akan kami Hapus