Jumat, 24 November 2017


Kitab I La Galigo Adalah Karya Sastra Orang Bugis

Naskah Lagaligo belakangan ini menjadi perdebatan dan buah bibir dikalangan para netter. Katanya naskah I Lagaligo ini bukanlah karya sastra orang Bugis. Betulkah demikian ?
Saya rasa untuk menarik kesimpulan tentang naskah I Lagaligo ini anda dan kita semua wajib membaca isi naskahnya sampai tuntas. Bahkan bukan sekedar membaca tapi wajib mengkaji kata demi kata kalimat demi kalimat agar isi naskah ini benar-benar dipahami.

Cukup sederhana Alasan saya mengatakan bahwa naskah La Galigo adalah karya sastra oleh orang Bugis. Alasan yang paling mendasar adalah jika kita membaca naskah ini maka hampir 100% nama tokoh yang disebutkan dalam kisah ini adalah nama yang umum digunakan oleh orang Bugis saat ini. tapi ada satu hal yang perlu kita ketahui semua bahwa karya sastra I Lagaligo ini bukan hanya milik orang Bugis. jadi kembali saya tekankan bahwa karya sastra I La Galigo bukan hanya milik orang Bugis tapi milik semua masyarakat Sulawesi Selatan bahkan milik masyarakat Indonesia. Alasan saya mengatakan karya sastra ini milik Sulawesi Selatan bahkan Nusantara karena di dalam kisah ini tidak saja membahas tentang Bugis. tapi beberapa wilayah lainnya di Nusantara ikut serta disebut dalam naskah ini seperti Jawa, Marangkabo (Minangkabau), Taraniti (Ternate), Gima (Bima).

Bagi yang masih ragu saya menganjurkan kepada anda untuk minimal membaca terjemahan Lagaligo oleh R.A Kern. Dimana pada halaman 1 sampai 200 membahas tentang peristiwa yang terjadi di Luwu. tapi halaman 200-1000 lebih umumnya membahas tentang intrik-intrik yang terjadi di wilayah Cina - Tana Ugi.

Berikut saya lampirkan isi naskah yang memperlihatkan dominannya penggunaan nama Bugis dalam toko I La Galigo mustahil jika karya tulis ini tidak dibuat oleh orang Bugis.


Silahkan perhatikan nama-nama tokoh diatas, itu hanya sebagian karena ada ribuan nama tokoh yang disebut dalam naskah La Galigo, untuk lebih jelasnya silahkan baca sendiri.Kenapa saya menggunakan nama Tokoh sebagai pembuktian, karena nama Orang tidak bisa di Translate.


Dan Kutipan Nashkan Diatas adalah salah satu kisah yang menyebutkan seekor burung yang pandai berbicara dalam bahasa Bugis dan Jawa dan bahasa lainnya.

Kita juga perlu mengetahui bersama Bagaimana kronologis sehingga naskah I La Galigo terjemahan dari katalog R.A Kern masih bisa kita baca sampai saat ini. pelestarian naskah ilagaligo ini bermula dari keprihatinan orang-orang Belanda dengan mulainya berkurang orang-orang tua yang menghafal kisah dalam Lagaligo. Oleh karenanya diadakan upaya untuk mengumpulkan naskah naskah kuno yang masih banyak dijumpai dalam masyarakat Sulawesi Selatan. dalam upaya tersebut Matthes berhasil mengumpulkan 26 Naskah, Jonker mengumpulkan 67 Naskah Dan Cense 42 Naskah. Kemudian dilakukan upaya penyaduran kembali naskah I Lagaligo oleh Colliq Pujie Arung Pancana Toa.Yang berjumlah 12 jilid dan total 6.000 halaman. Perlu diketahui juga bahwa hanya orang Bugislah yang mampu menyadur ulang dan mengartikan isi naskah I La Galigo ini.

Dikemudian hari tepatnya pada tahun 1939 R.A kern membuat 2 buah katalog terjemahan dalam Bahasa Belanda, jadi perlu diperhatikan bahwa R.A Kern membuat terjemahan dalam bahasa Belanda itu artinya katalog yang dibuat oleh R.A Kern adalah untuk konsumsi orang-orang Eropa dan Barat. Jika naskahnya dibuat untuk konsumsi orang Barat Maka tidak ada untungnya bagi Kern untuk merekayasa terjemahan naskah ini. Hal ini saya perjelas karena banyak orang-orang yang sok tahu tentang isi naskah ini padahal belum pernah membaca yang beranggapan bahwa naskah ini di rekayasa oleh orang Belanda. Padahal jika kita membacanya sangat terlihat bahwa naskah ini ditulis apa adanya dan tidak menguntungkan atau merugikan pihak manapun. Dan Barulah pada tahun 1989 terjemahan naskah I Lagaligo dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gadjah Mada University press. Jadi ada selang sekitar 50 tahun dari tahun 1939 sampai 1989 naskah ini hanya menjadi konsumsi orang barat.

Sejak terbitnya naskah I La Galigo dalam Bahasa Indonesia oleh Gadjah Mada University press tahun 1989 maka orang-orang Indonesia tidak kesulitan lagi untuk membaca kisah La Galigo ini.

Jadi saya rasa pihak-pihak lain yang meributkan tentang Naskah La Galigo bahkan mengatakan BUKAN KARYA SASTRA ORANG BUGIS, perlu mengkaji ulang pendapatnya.








0 komentar:

Posting Komentar

Anda tidak diperbolehkan berkomentar bersifat promosi produk yang sama dengan di artikel, Apabila anda tetap berkomentar maka komentar anda akan kami Hapus